Ketapang

Menjemput Harapan di Ujung Ketapang: Catatan Perjalanan Saya di Tanjung Lambai

9
×

Menjemput Harapan di Ujung Ketapang: Catatan Perjalanan Saya di Tanjung Lambai

Sebarkan artikel ini
HULU SUNGAI – Harapan masyarakat Dusun Tanjung Lambai, Desa Senduruhan, Kecamatan Hulu Sungai, untuk menikmati aliran listrik akhirnya mulai menemui titik terang. Dalam rangkaian kunjungan kerja sekaligus silaturahmi Ramadan kali ini, saya berkesempatan menginap di rumah warga sekaligus memimpin penancapan tiang listrik pertama.
Suasana khidmat dan meriah menyelimuti Dusun Tanjung Lambai saat saya tiba. Kedatangan saya disambut hangat dengan prosesi adat setempat dan atraksi pencak silat yang memukau. Ini merupakan bentuk penghormatan luar biasa dari masyarakat terhadap kepala daerah pertama yang secara resmi menginjakkan kaki di tanah mereka, sebuah kehormatan yang sangat saya hargai.
Keakraban semakin terasa saat waktu berbuka puasa tiba. Bertempat di Masjid Al-Hidayah, satu-satunya pusat peribadatan umat Islam di dusun tersebut, saya melebur bersama warga dalam kesederhanaan. Duduk melingkar di atas hamparan permadani, saya berdialog santai mengenai kondisi ekonomi dan infrastruktur desa sambil menikmati hidangan buka puasa bersama.
Sebagai bentuk kedekatan tanpa sekat, saya memilih untuk menginap satu malam di rumah salah satu warga, mendengarkan langsung aspirasi mereka hingga larut malam.
Keesokan paginya, sejarah kembali tercipta. Bersama tim PLN dan masyarakat, saya turun langsung bergotong royong menancapkan tiang listrik pertama.
Tanpa ragu, saya turut memegang dan mengangkat tiang besi bersama warga, menandai berakhirnya masa-masa gelap tanpa akses listrik bagi warga Tanjung Lambai.
“Kehadiran saya di sini bukan sekadar kunjungan formal. Saya ingin merasakan langsung denyut kehidupan warga. Penyambutan dengan adat dan pencak silat di Masjid Al-Hidayah ini adalah bukti kekayaan budaya dan kerukunan kita yang luar biasa,” ungkap saya di hadapan warga.
Sebagai puncak dari rangkaian kunjungan tersebut, saya melakukan penandatanganan prasasti di atas papan kayu yang sangat ikonik. Penandatanganan di media kayu ini menjadi simbol bahwa kehadiran pimpinan daerah dan komitmen pembangunan telah “terpahat” kuat di jantung dusun tersebut, sekaligus menjadi dokumentasi sejarah kehadiran Bupati pertama di sana.
Sebelum berpamitan, saya juga menyerahkan santunan kepada anak-anak yatim dan warga kurang mampu sebagai wujud kepedulian sosial pemerintah.
Kunjungan ini selaras dengan visi saya yaitu “Pembangunan berkeadilan untuk Kabupaten Ketapang maju dan mandiri”, memastikan seluruh warga, tanpa terkecuali, merasakan manfaat nyata dari pembangunan daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *