HiburanKalbarKetapang

Bupati Ketapang Alexander Wilyo bersama unsur Forkopimda, tokoh adat, organisasi budaya

14
×

Bupati Ketapang Alexander Wilyo bersama unsur Forkopimda, tokoh adat, organisasi budaya

Sebarkan artikel ini

PWK-Ketapang, Kalbar — Rangkaian Festival Syair Gulung Tanah Kayong 2026 resmi ditutup dalam suasana meriah dan sarat nuansa budaya Melayu di lingkungan Keraton Matan Tanjungpura, Kabupaten Ketapang. Festival budaya yang menjadi perhatian masyarakat ini tidak hanya menampilkan kekayaan tradisi syair gulung, tetapi juga menandai pencapaian prestisius berupa rekor dunia di bidang budaya dan sastra Melayu.

Prosesi penutupan festival diawali dengan penyambutan rombongan dari Keraton Matan Tanjungpura yang diiringi atraksi Silat Kutemare dari Putra Kayong serta tarian Zapin “Pucuk Ubi” persembahan Sanggar Ale-Ale. Nuansa adat dan tradisi Melayu begitu terasa, disambut antusias masyarakat yang memadati lokasi kegiatan.

Acara dipandu oleh MC Soeherman Ahmad dan dihadiri langsung oleh Bupati Ketapang Alexander Wilyo bersama unsur Forkopimda, tokoh adat, organisasi budaya, serta tamu kehormatan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Hadir mewakili MURI, Direktur Marketing MURI Awan Rahargo dan Customer Relation Manager MURI Bryan Razu Ramadhan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat, jajaran Dewan Mangku Keraton Matan, Pangeran Mangkunegara Uti Faradian, anggota DPRD Kabupaten Ketapang Mia Gayatri, perwakilan Raja Simpang Raden Jamrudin, Majelis Adat Budaya Melayu (MABM), Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT), organisasi adat, organisasi kemasyarakatan, hingga Majlis Daulat Iranata.

Suasana penutupan festival semakin khidmat saat Irma Yunita Safitri, Juara Syair Gulung MABM Tahun 2015, membawakan “Syair tentang Alhajj Gusti Muhammad Sabran”. Penampilan tersebut menjadi simbol keberlanjutan tradisi sastra Melayu di tengah generasi muda Ketapang.

Ketua Panitia Hakim Surya Putra, S.Pd., M.Pd., dalam laporannya menegaskan bahwa Festival Syair Gulung Tanah Kayong merupakan ruang penting untuk menjaga identitas budaya daerah sekaligus memperkuat eksistensi sastra Melayu di Kabupaten Ketapang.

Hal senada disampaikan Ketua Harian PLK-NMT, Citra Eka Syandi, yang menilai pelestarian budaya memerlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar warisan leluhur tetap hidup dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Salah satu momen yang menyita perhatian pengunjung adalah penampilan penyair cilik berusia tujuh tahun, Zafran Al Faghani Al Abrar bin Muhammad Abrar, cucu Datuk Mahligai. Kehadirannya bersama sebelas penyair senior menjadi simbol regenerasi pelaku budaya Melayu yang mulai tumbuh sejak usia dini di Tanah Kayong.

Dalam sambutannya, Pangeran Mangkunegara Uti Faradian menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya festival yang dinilai mampu memperkuat marwah adat dan tradisi Melayu di Kabupaten Ketapang.

Sementara itu, Ketua Dewan Mangku Ikramat yang diwakili Sekretaris Gusti M. Jamaluddin, SH, memberikan penghargaan kepada PLK-NMT atas keberhasilan meraih rekor MURI melalui Festival Syair Gulung Tanah Kayong 2026. Ia berharap pemerintah daerah terus memberikan perhatian serius terhadap pelestarian budaya lokal dan penguatan identitas masyarakat Melayu Ketapang.

Bupati Ketapang Alexander Wilyo dalam arahannya menyampaikan kebanggaan terhadap generasi muda dan seluruh pihak yang terlibat dalam menjaga warisan budaya daerah. Ia juga mengapresiasi konsistensi PLK-NMT dan Keraton Matan Tanjungpura dalam merawat tradisi budaya Melayu.

“Adat dan budaya bukan sekadar identitas, tetapi juga harga diri masyarakat daerah yang harus dijaga bersama,” tegas Bupati Ketapang.

Ia berharap pengembangan budaya Melayu ke depan tidak hanya berfokus pada syair gulung, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi berbalas pantun serta berbagai kesenian tradisional lainnya agar semakin dikenal generasi muda.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, festival turut menayangkan film pendek berjudul Syair Cinta, karya putra daerah berdurasi 17 menit yang mengangkat nilai budaya dan romantika tradisi Melayu Ketapang.

Festival Syair Gulung Tanah Kayong 2026 kemudian resmi ditutup oleh Bupati Ketapang dengan harapan budaya Melayu tetap lestari, berkembang, dan menjadi kebanggaan masyarakat.(yh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *